Resensi buku Zero to Hero oleh Teguh Surono
RESENSI BUKU “ZERO TO HERO”
Disusun oleh :
TEGUH
SURONO(A310120113)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA DAN SASTRA DAERAH
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
TAHUN 2012
Mendahsyatkan
Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa…!
Oleh
Teguh Surono
Judul
buku : Zero to Hero
Penulis
: Solikhin Abu Izzudin
Terbit
: Pro-U Media
Cetakan
XVI : Agustus 2010
Tebal buku : 300 halaman
Harga buku : Rp.25.000-,
Jika diakui, kita
ini hanyalah orang biasa. Banyak keterbatasan, kekurangan, kelemahan,
kegagalan, kemalasan dan lainnya. Hal itu bukanlah masalah. Bagaimana di tengah
keterbatasan itu kita dahsyatkan diri agar lahir prestasi tinggi. Itulah
kepahlawanan sejati.
Orang yang hebat adalah orang yang mampu mendahsyatkan
dirinya ketika dia , dan mengembangkan apapun yang ada didalam dirinya mau itu
sebuah kekurang ataupun kelebihan.
Ini bukan sekedar “buku cerita” tentang prestasi
manusia. Bukan sekedar bacaan hiburan pelepas kepenatan. Bukan semata kumpulan
dan nukilan. Kami gali dari khazanah yang terpendam, merangkai yang tercecer,
menyusun yang terbengkalai, merawat yang dianggap remeh dan menyuguhkannya
menjadi sebuah “kekuatan dahsyat” untuk menggugah dan mengubah diri menjadi
pribadi luar biasa.
Buku motivasi ini ditulis oleh Sholikhin. Lahir di
Kebumen, Jawa Tengah, 17 Maret 1971. Alumnus Program DIII Higene Perusahaan,
Kesehatan dan Keselamatan Kerja Fakultas Kedokteran UNS Surakarta menyelesaikan
pendidikannya tahun 1993. Kemudian melanjutkan studinya di Instiute of Da’wah
and Islamic Studies “Ma’had Al Bina’ Surakarta dan lulus sebagai lulusan
terbaik kedua dan diwisuda pada bulan Maret tahun 1996, hadir DR.HM. Hidayat
Nurwahid, MA dengan tema “Aqidah Salaf di Tengah Arus Kebangkitan Ummat.” Dalam
seminar wisuda bertajuk “Manhaj Salaf dan Gerakan Dakwah Islamiyah.”
Sejak kecil ia punya minat baca yang besar dan
menaungkan gagasannya dalam kertas-kertas bekas sekalipun (seperti pelapah
korma di jaman Nabi barangkali…) itulah yang turut mengantarkan pada kondisi
sekarang. “ketrampilan sekecil apapun sangat penting artinya dalam hidup”,
begitulah prinsip yang dipegangnya. Sangat perhatian terhadap waktu dan tidak
melewatkannya kecuali untuk hal-hal yang bermanfa’at. Seringkali menyusun
konsep-konsep tulisan di atas motornya dalam perjalanan. Salah satunya buku
“Mumpung Masih Muda, Enjoy Aja!” dan “Zero to Hero”. Biasa menghabiskan
beberapa buku-bukunya di atas bus atau di atas kapal laut.
Penulis, da’I, muballigh, konsultan keluarga,
presenter, desainer grafis, editor, dan trainer ini Mengawali debut
jurnalistiknya dengan menulis “resensi” di media pada tahun 1993 di majalah
Ishlah dan Inthilaq (almarhum), juga di Majalah Al Muslimun. Banyak mengangkat
kegiatan kmpus dan keislaman melalui reportase di Ishlah, kemudian dilanjutkan
menuangkan gagasan berupa artikel dan kolam seperti mengisi kolom Hikmah di
Harian Republika.
Penulis yng punya beberap nma di media seperti Abu
‘Izzuddin, Hamas Izzuddin, Sholikhin l Parambi, dan Solikhin Abu ‘Izzuddin, ini
ikut terlibt dalam pendirian Partai Keadilan di Sragen (kini PK Sejahtera),
juga terjun dalam Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah sebagai Ketu PDPM Bidang
Organisasi. Di DPD PKS ia menggawangi Biro Kaderisasi Keprtaian setelah
sebelumnya diamanahi di Humas dan Sekretaris Umum.
Putra dari pasangan Wiryo Utomo dan Roisah ini
dikaruniai 4 orang putera – Izzuddin Ar Rifqiy (tahun 2006 berusi 12 tahun,
Daris Muhammad Ridhwan 10 tahun, Royan Jaisy Ar-Rahman 2 tahun, dan Fahri Abdul
Fatah 4 tahun – dari pernikahannya dengan Retna Asih Dewi Astuti. TInggal di
Jl. Cemara Teguh jajar Rt. 08/II, Plumbungan, Karangmalang , Sragen 57222. HP.
081329005776
Mohon do’a ikhwan fillah, ustadz dan ulama dan seluruh
pembaca, semoga penulis bisa terus belajar dan menyajikan karya sebagai amal
jariyah sebagaimana pesan Ibnul Jauzy bahwa salah satu amal jariyah terbaik
adalah menulis buku. Sebab, meski penulisnya telah mati tetap Insya Allah ilmu
bermanfaa’at yang dituangkannya bisa mengalir sepanjang waktu. Semoga semua itu
bisa menjadi luasnya bangunan rumah kita di surga.
Please, dahsyatkan dirimu, Zero to Hero! Selamat
bekerja dan berkarya semoga Allah meridhoi kita.
Ringkasan
Zero to Hero
Kecil-kecil
jadi mufti
Suatu hari, di Masjidil Haram seorang guru tengah
menyampaikan ilmu kepada murid-muridnya. Dengan lugas, jelas, dan komunikatif,
guru tersebut mengajarkan materi fiqh, muamalah, jinayah dan hokum-hukum
criminal.
Namun ada yang ganjil dalam majelis ini, ternyata Pak
Guru tampak jauh lebih muda dari pada murid-muridnya. Bahkan di tengah profesi
belajar mengajar, ia sempat minta izin untuk minum, padahal siang itu adalah
bualan Ramadhan. Kontan saja “ulah” Pak Guru menuai Protes. “Kenapa Anda Minum,
padahal ini ‘kan bulan Ramadhan?”, Tanya para murid. Ia menjawab, “Aku belum
wajib Berpuasa.”
Siapa Pak Guru yang terlihat nyeleneh tersebut? Ia
adalah Muhammad Idris Asy-Syafi’i, yang lebih kita kenal dengan Imam
Syafi’i.
Kita tak usah heran dengan fragmen ini, karena
pada usia belum baligh Imam Syafi’i sudah menjadi ulama yang disegani. Usia
Sembilan tahun sudah hafal Al-Qur’an. Usia sepuluh tahun isi kitab Al-Muwatha’
karya Imam Malik yang berisi 1720 hadits pilihan juga mampu dihafalnya dengan
sempurna. Pada usia 15 tahun telah menduduki jabatan Mufti (semacam hakim
agung) kota Makkah, sebuah jabatan prestisius pada masa itu. Bahkan di bawah
usia 15 tahun, Imam Syafi’i sudah dikenal mumpuni dalam bidang bahasa dan
sastra Arab, hebat dalam membuat sya’ir, jago qira’at, serta diakui memiliki
pengetahuan yang luas tentang adat istiadat Arab yang asli. Subhanallah.
Merekapun
pernah Gagal
Imam Al-Ghazali adalah orang yang gemar mencatat
ilmu-ilmu yang didapatkan hingga suatu saat dia berjalan membawa hasil ilmunya
dan di rampok bawaannya. Perampok merebut bawaannya berupa catatan-catatan
ilmu. Imam Al Ghazali bersikeras merebutnya, tapi dia malah di cemooh, masa
mengandalkan ilmu hanya pada catatan bukan dari hafalan di hati, “Al-ilmu fish
shudhur la fis suthuur…”
Kegagalan inilah yang melecut dirinya untuk mengambil ibrah dan merubah cara
belajarnya dari sekedar mencatat menjadi menghafal. Dan hasilnya luar biasa
sebagaimana kita rasakan hingga saat ini. Kegagalan lainnya adalah beliau juga
pernah tersesat dalam filsafat ilmu kalam namun akhirnya tersadar dan
mengungkapkan kesesatan-kesesatan ilmu filsafat atau ilmu kalam.
Bermimpi
Yuk!
Penulis mengajak para pembaca bermimpi. Ada apa dengan mimpi? Mengapa kita
harus bermimpi? Bukankah mimpi itu bunganya tidur? Apa kita harus tidur dulu?
Bagaimana mau maju, bukankah kita sudah kebanyakan tidur?
Begini, suatu hari Umar bin Khatab ra melakukan dialog
dengan beberapa orang di zamannya. Umar bin Khatab berkata :
“Berangan-anganlah!” maka salah seorang diantara yang hadir berkata : “saya
berangan-angan kalau saja mempunyai banyak uang (dinar dan dirham), lalu saya
belanjakan untuk memerdekakan budak dalam rangka meraih ridha Allah.”
Seorang lainnya menyahut : “Kalau saya, berangan-angan
memiliki banyak harta, lalu saya belanjakan fi sabilillah.” Yang lainnya
menyahut : “Kalau saya mengangankan mempunyai kekuatan tubuh yang prima lalu
saya abadikan diri saya untuk member air zam-zam kepada jama’ah haji satu
persatu.”
Setelah Umar bin Khatab mendengarkan mereka, ia pun
berkata : “Kalau saya, berangan-angan kalau saja di dalam rumah ini ada tokoh
seperti Abdullah bin Al Jarrah, Umair bin Sa’ad dan semacamnya.”
[Stop! Bangun dan bangkitlah, jangan tidur terus nanti
kebablasan]
Mungkin anda bertabya mengapa harus bermimpi sih? Memang, mimpi itu kembangnya
tidur dan bukankah kita harus realistis?
Begini para pembaca budiman, memang mimpi bisa jadi tinggal mimpi. Namun ada
sebuah hikmah “Bermimpilah sebelum kamu menjadi pemimpin.” Serta “Belajarlah
sebelum engkau menjadi pemimpin.” Ternyata banyak orang-orang besar,
pemimpin besar yang berangkat dari seorang pemimpi. Jadilah pemimpi yang besar
untuk menjadi pemimpin yang besar. Dalam sebuah majelis, ada seorang syaikh
yang mengatakan, “Laa budda lil qaa-idi yakuuna lahu ahlam, wa illa la
yashluh an yahuuna qaa-idan… seorang pemimpin hharus mempunyai banyak
mimpi, jika tidak dia tidak layak jadi pemimpin.”
Memang kenyataannya, kita akan kehabisan stok pemimpin kalau tidak ada lagi
orang yang berani bermimpi dan bercita-cita besar. Nah, bila untuk bermimpi
saja tidak berani, bagaimana ia berani memimpin? Karena menjadi pemimpin
berabti menjadi orang yang cerdas. Yakni berani berfikir mendahului
masanya, meski kadang orang lain belum bisa memahaminya. Ia juga obsesif.
Memiliki pikiran dan gagasan besar di luar apa yang dipikirkan orang lain.
Seperti yang dilakukan Khidr, hal-hal yang tidak bisa dipahami dan dimengerti
oleh Nabi Musa.
Tapi yang aneh, kadang untuk bermimpi dan bercita-cita saja takut apalagi untuk
meraihnya. Iya kan?
Berhitung…
mulai !
Kalau dihitung-hitung, masing-masing waktu kita sama :
60 detik dalam 1 menit, 60 menit dalam 1 jam dan 24 jam sehari, 7 hari sepekan
dam seterusnya, anda sendiri hitunglah waktu Anda. Namun kata Imam Al Ghazali.
Kalau orang umurnya 60 tahun rata-rata dan menjadikan 8 jam sehari untuk tidur,
maka dalam 60 tahun iya telah tidur 20 tahun. Luar biasa… banyak banget
tidurnya ya. Lah prestasinya mana…? Itulah kebanyakan manusia. Apakah termasuk
kita?
Kita akui, kita orang biasa. Banyak keterbatasan, kekurangan, kelemahan,
kegagalan, kemalasan de el el. Itu bukan masalah. Bagaimana ditengah
keterbatasan itu kita mendahsyatkan diri lahir prestasi tinggi. Itulah
kepahlawanan sejati. From Zero to Hero!
Sejarah mencatat, banyak orang besar justru lahir di tengah himpitan kesulitan
bukan buaian kemanjaan. Mereka besar dengan mengurangi jam tidurnya, waktu
bekerja dan kesibukan mengurusi duniawi untuk memenuhi kebutuhan ukhrawi.
Menyedikitkan tidur malam untuk bisa bangun malam. Sedikit canda untuk rasakan
nikmatnya ibadah. Tak berlebihan dalam bergaul ‘tuk’ rasakan lezatnya iman.
Menahan diri dari maksiat biar tubuhnya tetap sehat.
Kelebihan
buku Zero to Hero
Bila di
pandang dari sudut harganya buku ini sangat murah hanya 25.000 ribu rupiah,
namun sangat istimewah manfa’atnya. Dan dalam
buku ini kita sebagai pembaca lebih ditekankan untuk meneladani para
tokoh-tokoh Islam yang ada dalam buku tersebut seperti seorang Imam Syafi’I
yang dulu menjadi mufti kecil di usianya yang masih kecil, dan juga ditekankan
bagi kita untuk dapat memanfaatkan momentum-momentum, waktu, dan massa yang ada
dengan sebaik mungkin tanpa harus mensia-siakan waktunya sehingga kita dapat
mengenal sosok para pejuang yang tangguh dalam menggapai kesuksesan duniawi
maupun ukhrawi seperti imam sya’fii, imam al-ghazali, umar bin khatab dan lain-lain.
Buku ini juga memberikan motivasi untuk menggali potensi yang ada dalam diri
seseorang, dengan memberikan contoh-contoh teladan yang ada di zaman Rasulullah
SAW. Dari segi bahasanya, bahasa yang digunakan dalam buku ini lebih ke bahasa
gaul anak remaja zaman sekarang ini.
Kekurangan
buku Zero to Hero
Dalam buku
yang berjudul Zero to Hero ini memang saya akui lebih banyak kelebihannya
dari pada kekurangannya, namun ada beberapa hal yang menjadi kekurangan buku
ini seperti banyak kata-kata yang di ulang dalam beberapa pembahasan. Dan
dalam buku ini ada beberapa kata tidak memakai EYD (ejaan yang disempurnakan)
contoh dalam penulisan “Al-quran” dibuku ini di tulis “Al-qur’an”, dalam EYD
penulisan “Al-qur’an” memang disalahkan yang benar adalah “Al-quran”. Ketika
menyebutkaan ayat-ayat Al-quran buku ini hanya menyampaikan/menuliskan
terjemahannya saja tanpa bahasa arabnya. Seharusnya ayat bahasa arabnya lalu di
tulis terjemahannya.
Sasaran
Buku
motivasi yang sangat super ini sebenernya ungkapan-ungakapan yang ada didalam
hati penulis. Penulis menulis buku ini dengan bahasa yang mudah dicerna oleh
kalangan pemuda-pemudi zaman sekarang, sangat menarik untuk dibaca.
Sehingga pemuda-pemudi lebih tertarik dalam membacanya. Penulis berharap
bahwasannya buku ini bukan hanya dibaca oleh orang-orang tua saja namun buku
ini harus dibaca oleh banyak pemuda-pemudi dikarenakan pemuda-pemudi zaman
sekarang merupakan calon-calon pemimpin dan pastinya kita semua mengharapkan
dan sangat memimpikan pemimpin yang sempurna dalam segala sisi, dari sisi
duniawi maupun sisi ukhrawi. Itulah pemimpin yang diimpi-impikan kita semua
selama ini. Seperti para pemimpin ketika zaman Rasulullah bisa menciptakan
kedamaian dan keadilan yang abadi dalam negaranya. Diharapkan bahwasannya
pemuda-pemudi untuk membaca buku ini, merenungi dan bisa menciptakan pribadi
yang hebat. Sehingga kelak akan menjadi pemimpin yang sempurna.
Manfaat
Setelah
membaca buku motivasi ini banyak sekali manfaat yang akan di dapat oleh
pembaca, diantaranya akan memiliki motivasi yang benar dan besar dalam hidup anda,
memiliki cara pandang positif menghadapi kehidupan, menuntun anda menggali
cita-cita besar anda, mengenali sifat-sifat positif untuk ditumbuhkan dan
dikembangkan, mengenali sifat-sifat negative untuk dikikis dan dihilangkan,
membantu anda mencali alur bagaimana meraih sukses dan bahagia, memiliki
cara-cara yang tepat dan akurat untuk menggali potensi diri melejitkannya
meraih pretasi luar biasa, tidak menyia-nyiakan momentum dan kesempatan, selalu
berfikir dan bekerja keras untuk mengembangkan diri, menyadari keterbatasan,
lakukan percepatan dan pemberdayaan, raih prestasi, menyusun rencana hidup
untuk melahirkan amal-amal unggulan, dan jangan menyerah menghadapi masalah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar